BILA SUAMI TAKUT ISTRI

Kalau kita lihat tayangan di salah satu televise swasta “Pria-Pria Takut Istri”, tampaknya tidak hanya ada di tayangan televise saja, dalam kehidupan sehari-haripun banyak kenyataannya bahwa sebagaian pria takut pada istrinya sendiri.Dalam siklus keluarga, hubungan keluarga dalam diri setiap manusia pada dasarnya terdapat keinginan untuk mendominasi yang lainnya, tetapi tidak semua orang bisa menguasai terhadap orang lainnya. Semua tergantung pada pribadi yang lebih kuat dialah yang akan menang. Dalam perkembangan waktu ke waktu dominasi wanita jaman dulu sangatlah jarang, biasanya pria yang lebih memegang kendali, tetapi sekarang banyak kita lihat bahwa sebagian wanita lebih mendomanasi dan menekan pasangannya. Faktor lain yang menyebabkan wanita mendomonasi pasangannya yaitu faktor keluarga, apabila dalam suatu keluarga seorang ibu lebih mendominasi dalam keluarga secara tidak langsung akan ditiru sang anak yang akan meneladani sang ibu untuk mendominasi keluarganya sendiri apabila si anak sudah menikah. Faktor lain yang menyebabkan wanita mendominasi pasangannya adalah karena penghasilan wanita lebih besar daripada suami. Banyak wanita tidak siap apabila hal ini terjadi, sehingga ia merasa lebih super daripada suaminya. Ini terjadi bukan tanpa alasan, system patriaki membuat pria lebih dominant secara sosial sehingga wanita lalu menyadari ia harus setara agar tidak dilecehkan. Ketika suami kalah secara materi istri menganggap suami tak lebih pandai darinya. Tak masalah apabila wanita ingin maju tetapi jangan sampai tak menghargai suami. Orang yang dominant tidak mempunyai batasan padahal batas adalah kunci relasi yang sehat. Yang patut kita sadari adalah bahwa harta yang paling berharga bukan uang atau benda mewah karena sukses financial bukan segalanya. Solusi untuk permasalahn di atas adalah tanyakan pada diri sendiri kualitas apa yang dimiliki suami sehingga anda menikahnya. Mungkin saja suami memiliki aspek positif lain yang tak dipunyai istri. Kita ketahui orang yang mendominasi biasanya suka mendekte, padahal dalam menjalani pernikahan seharusnya posisi suami dan istri harus setara, sayangnya sifat mendominasi ini cenderung menyebabkan yang lain terpaksa mengalah. Ketika suami tidak suka diatur oleh istri yang dominan, suami akan menurutinya padahal hatinya menolak, tapi apakah suami mengalah dengan rela? Jawabnya belum tentu. Bisa jadi suami mengalah karena tidak ingin rebut dengan istrinya walaupun hatinya dongkol. Padahal kesetaraan dalam hubungan sangatlah penting. Istri harus memikirkan kebahagiaan pasanganya, begitu pula sebaliknya. Bila sudah menikah bukan hanya tentang anda tapi juga pasangan. Istri mendominasi suami, ini gambaran betapa ia tidak menghargai suaminya. Komponen pernikahan justru adalah penghargaan. Mendominasi suami sama saja menginjak-injak suami. Orang yang dominant mencerminkan ketidak dewasaan seseorang secara emosional misalnya tidak mempercayai kesetiaan suaminya sehingga timbul dalam pikirannya ketakutan suaminya selingkuh. Ketkutan ini membuat istri menekan suami secara emosional sehingga suami takut terhadap istrinya. Dampaknya suami akan merasa tertekan di rumah, dia akan mencari alasan untuk mengulur-ulur waktu untuk pulang ke rumah atau pergi pagi-pagi agar terhindar dari konflik dengan istrinya. Kebiasaan baru suami ini akan menambah kecurigaan istri, suami mengharapkan apa yang dilakukan bisa memperbaiki hubungan semkain memperuncing kecurigaan. Bahkan lebih buruk suami justru mencari pelarian dengan benar-benar berselingkuh. Hasilnya intiminasi dalam keluarga semakin berkurang, suami tidak betah dengan omelan istrinya dan ia akan menjauh. Hubungan intim dan komunikasi yang seharusnya terjalin erat akhirnya tinggal cerita. Jadi, agar hubungan rumah tangga yang kita jalin dengan suami yang sudah lama haruslah kita jaga, kunci hubungan sehat adalah adanya batasan yang bisa memberikan rasa nyaman karena istri menghargai suami dan menyayanginya dalam kebebasan yang diberikan bukan karena takut. Untuk menghadapi istri yang super dominan, suami harus benar-benar bisa bersikap tegas dan konsisten. Suami harus berkata “tidak” agar istri tidak terus menindas. Pria harus berani mengklaim bahwa dirinya sebagai kepala keluarga, sekalipun mengundang pertengkaran dan konflik. Memendam permasalahan bukan solusi yang baik, konflik taka pa terjadi justru harus diselesaikan untuk menemukan titik temu dan menyesuaikan visi. Justru pernikahan tanpa konflik banyak yang berada di ujung tanduk. Jadi tak kalah penting yang harus kita lakukan adalah ingat kembali tujuan pernikahan dan mengapa memutuskan memilih menikahi pasangan. Suami harus lebih sigap dan bisa diandalkan. Tak hanya soal penghasilan tapi juga dalam pengambilan keputusan. Komunikasikan mulai hal terkecil untuk mendapatkan solusi terbaik demi kebaikan bersama.

Incoming search terms:

  • dongkol dg istri tdk mau hubungan

4 Comments

  1. CHOLID May 28, 2009 at 7:15 pm - Reply

    LUMAYAN BUAT DITIRU

    [Reply]

  2. yana December 24, 2011 at 10:27 am - Reply

    awal dari kebohongan kita jadi petaka, knp q hrs ikuti katamu. berawal dari pacaran bohongi ortunya, smua biaya d aturnya hingga ku tak bisa memilih. Usaha ku jadi terbengkalai, hidup q jadi berantakan, q ingin usaha d tmpat q tinggal dulu, tapi istri dan saudaranya gk mengizinin. Padahal usaha ku dah lumayan d sana, skrg q makan ja d tanggung mertua, q gk bisa mandiri, smua d aturnya! Apa solusi nya tolonglah aq sahabat q?!

    [Reply]

  3. sweetspe December 24, 2011 at 4:02 pm - Reply

    Bapak Yana, ada baiknya anda bicara baik-baik dengan istri anda, apa yang menjadi keluhan anda selama ini. Anda adalah kepala rumah tangga yang mempunyai kewajiban atas istri dan anak-anak. Mengikuti kata orang tua juga bagus tapi tidak semua harus dipatuhi karena ada batas antara anak yang sudah menikah dengan orang tua. Sebagai istri orang yang bertama diikuti adalah suami dengan catatan suami harus benar-benar melakukan kewajibannya dengan baik. Semua harus dibicara dari hati ke hati dengan kepala dingin, dengar kan juga apa yang dikeluhan istri anda, cari solusi yang win-win solution, itu yang terbaik.

    [Reply]

  4. rafi April 12, 2012 at 1:53 am - Reply

    who hold the money hold the power.. kalau si wanita memegang seluruh duit suami-nya, maka terjadi-lah suami2 takut istri.. karena kalau istri-nya marah, dia mau pergi beli rokok saja bakalan setengah mati.

    gua ngak tau, kapan mulai-nya tradisi begini, but its a very stupid idea..

    alasan-nya apa? lelaki bakalan selingkuh kalau pegang duit?

    oh guess what, wanita juga selingkuh koq nowadays..

    so, dont be stupid, men have to be incharge of money.

    [Reply]

Leave A Response