Terapi ozon bermanfaat untuk membantu menangkal radikal bebas dan mempercepat proses pengobatan stroke, hipertensi, dan penyakit degeneratif lainnya.Seperti sampah yang meracuni lingkungan, udara yang kotor dan gaya hidup tidak sehat juga merusak kesehatan kita. Berbagai zat beracun seperti sampah metabolisme dan zat radikal bebas lainnya yang masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan dan kulit, dapat mengurangi kadar oksigen di dalam darah menjadi sangat rendah.Menurut Dr Mulyadi Tedjapranata, MD, dari Medizone, Clinic Specialist in Ozone Therapy di Jakarta, masalah ini sering menjadi pemicu utama munculnya sindrom metabolik dan penyakit degeneratif seperti, obesitas, diabetes melitus, stroke, hipertensi, jantung koroner, hingga penyakit kanker.Pendapatnya ini, antara lain, didasarkan pada hasil penelitian Dr Otto Warburg dari Kaiser Institute, Berlin, Jerman. Peraih Hadiah Nobel 1931 di bidang kesehatan ini, pada tahun 1926 telah berhasil membuktikan bahwa sel tubuh penderita penyakit degeneratif dan kanker sangat rendah kadar oksigennya. Pada tahun 1953, hasil penelitian Dr Stephen A. Levine, PhD, ahli biologi molekuler, dipublikasikan oleh The Journal of Experimental Medicine (1953). Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa pada setiap penderita penyakit berat didapati status oksigen yang rendah.

“Hipoksia atau kekurangan oksigen di dalam jaringan tubuh inilah yang menjadi salah satu pemicu utama berbagai penyakit degeneratif dan proses penuaan dini,“ tulis Dr Stephen dalam laporan ilmiahnya. Karenanya, untuk mengatasi masalah ini, aliran oksigen di semua jaringan tubuh harus dinormalkan kembali, agar tubuh bisa menghasilkan energi secara maksimal untuk membuang racun dan sampah metabolisme yang mengendap di dalam tubuh. Salah satu metode pembersihan tubuh yang bisa dicoba adalah terapi ozon – terapi pengayaan oksigen atau ozononisasi dalam darah untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang mengalami kekurangan oksigen.

Populer di Eropa

Ozon yang digunakan adalah medical ozone atau ozon medis, berupa campuran 0.05-5% ozon (O3) dan 99,95-95% oksigen (O2) yang terbentuk setelah melewati medan listrik (ozone generator) berkekuatan sekitar 14.000 Volt. Ozon (O3) ini setelah masuk ke tubuh melalui darah akan terpecah menjadi O2 dan satu atom tunggal (O). Oksigen bermanfaat bagi kelangsungan hidup sel, sedangkan satu atom tunggal (O) merupakan oxydizer berenergi tinggi yang dapat membakar sampah, toksin, polusi dan mikroorganisme dalam tubuh.

Dr Mulyadi menjelaskan, semua sel di dalam tubuh memerlukan oksigen untuk kelangsungan hidup dan menjalankan fungsinya. “Sebaliknya, berbagai mikroorganisme seperti virus, bakteri, jamur, parasit yang menyebabkan penyakit adalah organisme primitif yang anaerobe – bisa hidup tanpa oksigen.

Karenanya, jika mikroorganisme itu dibanjiri ozon secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu, mikroorganisme tersebut akan musnah karena mereka tidak dapat hidup dalam oksigen. ”Termasuk sel-sel kanker. Seiring terjadinya proses regenerasi atau pertumbuhan sel-sel baru setelah mendapat rangsangan melalui terapi ozon, sel-sel kanker tersebut digantikan oleh sel sehat, “ demikian Dr Mulyadi menjelakan.

Dan kini, terapi ozon telah dipakai sebagai terapi komplementer dan terapi pendukung (supportive) pada pengobatan konvensional, tidak saja di negara-negera Eropa, tetapi juga telah menyebar sampai ke Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, dan ke Asia – mulai dari Jepang, Singapura, Malaysia, hingga ke Indonesia.

Metode terapi

Lalu bagaimana metode terapinya? Sebetulnya ada beberapa metode terapi ozon, tetapi yang paling popular adalah Polyatomic Apheresis (PA atau Re-Circulatory Autohemo Perfusion) dan Major Autohemotherapy (AHT). Kedua metode ini juga sudah ada di Indonesia, antara lain di Stanford Medical Center-Russian Technology of Ozone Therapy, dan di Medizone – Clinic Specialist in Ozone Apheresis.

Pada Polyatomic Apheresis atau PA, darah diambil dari pembuluh darah balik di lengan, dialirkan ke dalam tabung dialyser yang khusus diberi medical ozon sesuai kebutuhan. Darah hasil terapi yang sudah dibio-oksidasi warnanya lebih cerah karena mengandung oksigen lebih banyak dari sebelumnya serta kandungan radikal bebas dan sampah metabolismenya telah dinetralkan.” Selanjutnya, darah hasil terapi ini dikembalikan lagi ke dalam pembuluh darah balik, lewat lengan tangan lainnya dengan kecepatan aliran 90 cc per menit, sehingga dalam waktu satu jam darah yang berhasil diterapi sekitar 5.400 cc,” kata Dr Mulyadi.

Sedangkan pada metode Autohemo Therapy (AHT), darah dikeluarkan dari pembuluh balik sekitar 150 cc, lalu ditampung dalam botol vakum dan segera diberi ozon dengan konsentrasi 27-40 mcg per ml. Setelah warnanya merah cerah, darah segera dimasukkan kembali ke dalam pembuluh darah balik. Pada metode AHT, prosesnya hanya berlangsung sekitar 15 menit.

Dr Mulyadi menjelaskan, proses terapi ozon aman karena semua alat medis telah disterilkan dan sekali pakai, sehingga tidak ada risiko kontak dengan darah orang lain. Selain itu, semua alat dan mesin yang digunakan adalah buatan Jerman dan telah dipatenkan di Amerika Serikat. Karenanya wajar jika terapi ozon ini tergolong relatif mahal. (Sumber Nirmala)

Post Update :
Date : Saturday, April 19, 2014 - Sabtu, 19 April 2014