Mar 09 2010
PIKIRAN DAN JIWA PERLU DETOKS JUGA
Menurut Maya, seorang fasilitator penyembuhan holistic, selama ini banyak orang mengaitkan detoks hanya dengan tubuh. Misalnya, seseorang ingin sehat, ia mengikuti terapi jus. Padahal, bukan hanya tubuh saja yang perlu detoks, pikiran dan jiwa kita pun perlu didetoks.
Mengapa? Karena setiap hari kita selalu berinteraksi dengan orang lain. Orang yang kita temui ada yang baik, ada yang kurang bisa kita terima sikap-sikapnya dan akhirnya membuat kita kesal dan jengkel. Kekesalan dan kejengkelan itulah sampah-sampah emosi yang harus segera dienyahkan. Jika terakumulasi akan menghambat pekerjaan kita.
Menyapu sampah-sampah emosi bisa dilakukan dengan terapi alam seperti meditasi dan yoga dan minimal dilakukan seminggu sekali. Dengan demikian sampah-sampah emosi tersebut tidak terus menumpuk.
Memunculkan Inner Beauty
Selama ini pemahaman bahwa olahraga /fitness dapat menyehatkan tubuh, seperti yang sering dianjurkan oleh para dokter medis, sudah bukan rahasia umum. Tetapi jangan lupa jiwa dan pikiran serta mental pun perlu fitness juga.
Menurut Maya, istilah holistic care yang bermunculan sekarang ini, masih disalahartikan. Holistic selama ini selalu dikaitkan dengan penangan body dan soul saja. Jika hanya itu saja yang disembuhkan akan ‘pincang’. Holistic berarti secara keseluruhan. Sebagai mahluk spiritual, pastilah kita memiliki jiwa, raga dan mental. Pertanyaannya bagaimana kita bisa mencapai keseimbnagan atas ketiganya itu.
Selama ini ketika seseorang sudah nyaman tubuhnya, seperti melakukan terapi pijat, orang itu bisa tenang. Memang pijat dapat mengurangi stress, tapi sampai kapan? Pijat hanya mengatasi sebagaian masalah saja. Padahal ada yang lebih penting untuk diatasi, yaitu akar permasalahannya. Jadi, nggak cukup hanya menjalankan terapi pijat saja. Dengan mengolah jiwa raga, mental menurut maya secara otomatis inner beauty akan muncul baik melalui wajah maupun tingkah laku.
Sebagai fasilitator, Maya tidak pernah menjanjikan kesembuhan kepada klien-kliennya, melainkan hanya memberitahukan cara-cara atau terapi-terapi yang cocok dengan kebutuhan kliennya. Ia juga menggarisbawahi bahwa setiap manusia mempunyai kemampuan menyembuhkan dirinya sendiri. Misalnya seseorang sakit, tetapi ia tidak mau disembuhkan, maka dokter atau praktisi secanggih apa pun tidak akan mampu menanganinya.
Banyak orang yang masuk ke dunia spiritual setelah mengalami pencerahan. Maya pun mengalami arus kehidupan yang unik yang mau tidak mau harus dilakoninya. Permasalah pribadi yang menimpanya ketika ia masih anak-anak, menimbulkan begitu banyak kekecewaan padanya, sehingga ia merasa sudah tidak bisa menikmati hidup dengan utuh. Cobaan yang sangat berat itu membuat ia senang menyendiri, menyalahkan diri sendiri dan menyimpan ‘dendam’ selama bertahun-tahun. Akibatnya fisiknya mulai digerodoti penyakit. Sakit pinggang, sakit maag, mudah letih, stress dan depresi. Semua ini menghambat sktivitas kesehariannya. Sampai akhirnya dia menjadi pecandu rokok hanya karena sekedar menempis kekecewaannya yang sebenarnya tetap mengakar dan tumbuh di jiwanya. Berurusan dengan dokter, psikiater, psikolog sudah tak terhitung lagi, namun ia tetap sakit, penuh amarah dan tidak bisa berpikir jernih. Pada akhirnya Maya kemudian pergi ke Anand Ashram (Center for Holistic Health & Meditation) di bilangan Sunter untuk mengikuti beberapa terapi alamiah seperti Neo Zen Reiki, meditasi dan yoga. Mulanya memang agak aneh mengikuti pelatihan-pelatihan seperti itu, tetapi lama-lama sedikit demi sedikit jiwanya terobati.
Yang terpenting menurut Maya adalah menjaga hubungan dengan Tuhan, melalui pelatihan-pelatihan itu akan mengurangi bahkan menghilangkan jarak antara manusia dan Tuhan. Pada prinsipnya, kita harus bisa melihat kehidupan itu seutuhnya dan harus kembali ke konsep awal yaitu mensyukuri kehidupan yang diberikan Tuhan. Ketika seseorang sudah dapat mensyukuri kehidupan, akhirnya dia dapat lebih mengenal dirinya, mengenai jati dirinya. Dan proses mengenal diri sendiri itu berkembang terus sehingga segala tindakan kita akan lebih terarah.
Melalui pelatihan-pelatihan dan gemblengan mental, manusia seolah terlahir kembali sebagai manusia baru. Banyak perubahan yang akan dialami. Yang dulunya diperbudak oleh emosi nafsu akan menjadi seseorang yang bisa mengontrol diri sendiri atau ‘remote control’. Permasalahan akan terus ada dan tidak akan pernah padam, hanya dengan mengontrol diri sendiri, mengontrol emosi, kita bisa menyelesaikan setiap masalah dari segi yang lainnya dengan kaca mata yang berbeda pula. Tujuan dari pelatihan semacam ini membuat manusia mandiri, tidak tergantung apa pun tetapi harus terus diolah dan prosesnya seumur hidup. Yang terpenting kita harus optimis bahwa semua masalah pasti ada jalan keluarnya dan hanya dengan pendekatan dengan Tuhan semua akan berjalan dengan mudah. (Sumber: Nirmala)
search terms :
detoks,Detox utk orang sakit maag,masalah mental dan jiwa,pikiran dan jiwa,pikiran dan maag





