PETAI, BERBAU TAPI BERKHASIAT

bau napas PETAI, BERBAU TAPI BERKHASIAT

PETAI, BERBAU TAPI BERKHASIAT

PETAI, BERBAU TAPI BERKHASIAT. Bagi pembenci aroma petai, tak terbayang apa enaknya lalap petai muda yang krecus-krecus renyah. Tapi, bagi yang menyukainya, rasa petai pasti luar biasa nikmatnya. Petai (Parkia speciosa) kaya senyawa belerang alias sulfur yang menjadikan aromanya sedemikian menusuk. Karena aromanya ini pula, petai sering dicampurkan ke dalam masakan seperti botok atau sayur lodeh, sebagai “pengharum”.

Para peneliti memuji petai sebagai biji-bijian yang kaya antioksidan. Zat aktif oksidannya mampu melumpuhkan aktivitas radikal bebas superoksida hingga lebih dari 70 persen. Para ahli berharap akan ada yang tertarik mengekstrak zat aktif petai untuk biang antioksidan pelawan efek penuaan. Hanya saja, jangan nekat makan petai banyak-banyak hanya karena ingin memburu khasiat antioksidannya. Bisa-bisa anda di demo tetangga se RT gara-gara selokan tercemar bau air seni anda.

Dalam petai ditemukan adanya asam amino triptofan, yang di dalam tubuh akan berubah menjadi hormone serotonin. Senyawa inilah yang membuat kita merasa rileks, nyaman an mood menjadi lebih baik setelah makan petai. Karena kaya kalium, petau bagus juga bagi pengidap tekanan darah tinggi. Secara tradisional, petai muda mentah sering pula dilalap sebagai “obat” radang ginjal (nefritis), diabetes dan peluruh cacing perut (antelmintik).

Tapi sayangnya belum ditemukan data berapa banyak petai harus kita konsumsi agar memberikan manfaat tersebut. PETAI, BERBAU TAPI BERKHASIAT

Post Update :
Date : Tuesday, September 2, 2014 - Selasa, 2 September 2014