Nov 22 2009

OSTEOPOROSIS TANPA GEJALA, TAPI BERBAHAYA

Published by sweetspe at 12:24 am under health |

Tidak sedikit wanita yang menyepelekan osteoporosis, karena tidak adanya gejala yang menyertai penyakit tersebut. Padahal, dampaknya bisa fatal. Adakah cara yang bisa dilakukan untuk mencegah osteoporosis?

Tulang adalah penyangga tubuh yang sangat penting. Sayangnya, tanpa disadari, banyak wanita yang kurang memedulikan kesehatan tulangnya. Buktinya, berdasarkan hasil analisis data risiko Pusat penelitian dan pengembangan Gizi Departemen Kesehatan menunjukkan, dua dari lima orang Indonsia berisiko mengalami osteoporosis.

Sebanyak 41.8% laki-laki dan 90% perempuan Indonesia memiliki gejala osteoporosis, hal itu yang diungkapkan DirJen Pengendalian Penyakit dan penyehatan Lingkungan Tjandra Yoga Aditama pada puncak peringatan Hari Osteoporosis Nasional di Jakarta.

Menurut Menteri kesehatan RI Endang Rahayu Sedyaningsih, osteoporosis adalah salah satu penyakit degeratif, yang belakangan jadi masalah kesehatan Indonesia, sebagai efek dari peningkatan usia harapan hidup dan perubahan gaya hidup.

Osteoporosis memang tidak bisa disepelekan. Osteoporosis adalah kelainan yang bersifat sistemik yang berdampak pada keseluruhan tubuh dan menyebabkan terjadinya kekeroposan tulang. Tidak hanya itu pada bentuknya, tapi juga pada arsitektur tulang yaitu menjadi lebih jarang dan berlubang-lubang. Proses pengurangan massa tulang pada tiap manusia bisa berbeda-beda atau sangat individual. Namun, terjadinya proses pengurangan tersebut dimulai setelah tulang mencapai masa pencak kekuatannya. Yakni, ketika seseorang telah mencapai usia 30-34 tahun.

Setelah usia 34 tahun, kekuatan tulang mulai menurun karena tulang sudah keropos, bila terjadi tekanan yang dalam kondisi normal tidak menyebabkan apa-apa, pada penderita osteoporosis akan menyebabkan keretakan ahkan patah tulang. Misalnya, bila kaki terpelosok ke dalam lubang, pada orang yang tulangnya normal, hanya akan menyebabkan keseleo, tapi pada mereka yang menderita osteoporosis, peristiwa tersebut menyebabkan patah tulang.

PENYEBAB
Osteoporosis dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu osteoporosis primer dan sekunder. Kedua jenis osteoporosis itu dibedakan berdasarkan penyebabnya, yaitu:
1. Primer, dikatakan osteoporosis primer bila penyebabnya tidak bisa dihindari. Artinya, mau tidak mau seseorang akan menderita osteoporosis, karena “terikat” faktor berikut:
a. Keturunan, ada orang yang secara keturunan memiliki tulang-tulang yang lebih rapuh disbanding orang lain. Faktor keturunan atau genetic berperan dalam penentuan massa tulang. Jika ada salah satu anggota keluarga menderita osteoporosis, kemungkinan keturunannya untuk menderita osteoporosis mencapai lebih dari 50 persen.
b. Usia, secara progresif, tulang akan meningkat kepadatannya sampai maksimal sekitar usia 34 tahun. Setelah itu, kepadatan tulang akan berkurang secara perlahan. Karena itu, kepadatan tulang harus dijaga sejak masih muda agar pada saat tua tidak menderita osteoporosis.
c. Jenis Kelamin, Wanita lebihrentan terkena osteoporosis ketimbang pria, karena pengaruh hormone estrogen yang menurun sejak usia 35 tahun. Selain itu pada usia sekitar 45 tahun, wanita juga mengalami menopause, dimana hormone estrogen makin banyak yang hilang. Padahal, hormone estrogen itulah yang membantu penyerapan nutrisi, termasuk kalsium, yang dibutuhkan tulang.
d. Ras, wanita asia lebih mudah terkena osteoporosis disbanding wanita afrika. Itu disebabkan secara umum konsumsi kalsium wanita asia sangat rendah, karena sekitar 90 persen mengalami intoleransi laktosa dan menghindari produk hewani. Pembedaan yang mudah dan paling tampak adalah mereka yang berwajah dan berkulit oriental , itulah yang akan lebih mudah terkena osteoporosis. Sedang ras Negroid, mempunyai kepadatan tulang lebih tinggi dibanding ras lainnya. Sehingga ras Negroid berpeluang lebih kecil untuk menderita osteoporosis ketimbang ras lainnya

2. Sekunder, dikatakan osteoporosis sekunder bila terjadi akubat faktor-faktor yang sebebnarnya bisa dihindari atau diubah, seperti berikut:
a. Pola makan yang tidak sehat, misalnya kurang konsumsi vitamin D yang sangat penting bagi pembentukan tulang dan jarang terkena sinar matahari.
b. Aktifitas fisik yang kurang atau kurang olahraga
c. Konsumsi alkohol, sebab alkohol dapat menghambat kalsium akibat terjadinya gangguan pada usus halus. Hal itu tentu sangat mempengaruhi kekuatan tulang.
d. Kebiasaan merokok, sebab nikotin dalam rokok bisa mengurangi jatah kalsium yang diserap tulang. Selain itu, nikotin membuat kadar dan aktivitas hormone estrogen dalam tubuh berkurang, sehingga susunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi proses pelapukan.
e. Konsumsi kafein, seperti minum the, soft drink. Sebab, kafein dapat mengganggu penyerapan kalsium.
f. Lingkungan tempat tinggal juga mempengaruhi seseorang terkena osteoporosis atau tidak. Lingkungan yang lebih sedikit mengonsumsi kalsium, akan memperbesar peluang terjadinya osteoporosis.
g. Penggunaan obat yang mengandung steroid, seperti pada penderita asma dan batu ginjal juga berisiko tinggi menyebabkan osteoporosis karena steroid dapat menghambat penyerapan kalsium. Obat kortikosteroid yang sering digunakan sebagai antiperadangan juga menyebabkan osteoporosis karena menghambat pembentukan tulang.

Bertubuh Kurus Rentan Osteoporosis?
Mereka yang bertubuh kurus disinyalir lebih mudah mengalami osteoporosis ketimbang mereka yang bertubuh gemuk. Hal itu dibenarkan oleh Erwin. Alasannya, orang kurus itu “pelindungnya” lebih tipis daripada orang gemuk. Sedang mereka yang gemuk masih terlindungi olek lemak-lemak tubuh yang melingkupi tulang. Dengan begitu, proses penipisan tulangnya jadi lebih lambat ketimbang mereka yang kurus dan tak berlemak.
Oleh sebab itu, cara yang paling baik adalah menjaga asupan gizi dan nutrisi yang bisa menjaga kekuatan tulang sehingga berat badan menjadi normal dan yang juga penting bisa terhindar dari osteoporosis. Orang yang menjadi kurus sekali atau berusaha untuk kurus dengan cara yang tidak tepat juga rentan terkena osteoporosis. Artinya, orang tersebut mengurangi asupan makan secara berlebihan, puasa ketat, bahkan menolak makan dalam waktu panjang. Sehingga menyebabkan kurang gizi. Kekurangan gizi itulah yang akan mencetuskan terjadinya penyakit, termasuk osteoporosis.

TANPA GEJALA
Berbeda dengan penyakit lain yang selalu menunjukkan gejala, osteoporosis tak menunjukkan gejala atau menimbulkan keluhan apa pun. Karena itulah, osteoporosis disebut silent disease atau silent thief karena dating dan diam-diam mencuru kepadatan tulang. Tahu-tahu, tulang sudah makin tipis, semakin rapuh dan menjadi mudah patah oleh suaut sebab yang simpel. Misalnya terpeleset. Itu bisa terjadi pada laki-laki maupun wanita. Osteoporosis baru akan menimbulkan keluhan bila tingkatannya sudah berat. Misalnya, muncul rasa ngilu pada tulang secara keseluruhan. Dan, bila ada benturan akan merangsang terjadinya kerusakan fatal. Pada penderita osteoporosis, tulang yang biasa patah adalah pinggul, pergelangan tangan dan tulang belakang. Patah tulang akibat tulang keropos adalah penyebab kematian dan kelumpuhan.

LAKUKAN PEMERIKSAAN
Karena tidak ada gejala atau tidak menimbulkan keluhan apa pun, Sangat disarankan agar wanita, terutama yang sudah berusia 35 tahun ke atas, memeriksakan tulangnya secara berkala. Berikut ini di antaranya:
a. Rontgen, Rontgen tulang merupakan teknik lama, namun sangat efektif untuk melihat keropos atau tidaknya tulang. Ada tiga area tulang yang bisa dilihat atau menjadi tolok ukur untuk mendeteksi osteoporosis yaitu tulang belakang, tulang pangkal paha dan tulang pergelangan tangan.
b. BMD. BMD atau Bone Mass Densitometry, merupakan pemeriksaan dengan USG sebagai screening awal penyakit osteoporosis. Hasilnya hanya ditandai dengan nilai T yang menggambarkan kualitas tulang seseorang. Jika nilainya lebih dari 1 berarti kepadatan tulang masih baik, tau normal. Nilai antara 1 dan -2.5 berarti terjadi osteoporosis (penipisan tulang) atau gejala osteoporosis. Jika nilainya kurang dari -2.5 berarti sudah terjadi osteoporosis atau keropos tulang.
c. Densitometer (Lunar). Pemeriksaan ini menggunakan teknologi dual-energy x-ray absorptiometry (DXA), merupakan gold standard diagnosa osteoporosis dan prosesnya aman, tidak menimbulkan nyeri serta bisa dilakukan hanya dalam waktu 5-15 menit.
DXA ini sangat berguna bagi wanita yang punya resiko tinggi menderita osteoporosis, penderita yang diagnosanya belum pasti, dan penderita yang hasil pengobatan osteoporosisnya harus dinilai secara akurat.
d. Pemeriksaan Laboratorium. Proses pengeroposan tulang bisa diketahui dengan memeriksakan penanda biokimia CTx (C-Telepeptide), yakni hasil penguraian kolagen tulang yang dilepaskan ke sirkulasi darah, sehingga spesifik dalam menilai kecepatan proses pengeroposan tulang. Pemeriksaan CTx juga berhuna dalam memantau pengobatan menggunakan antiseropsi oral.
e. Lain-lain. Sinar x untuk menuntukkan degerasi tipikal dalam tulang punggung bagian bawah. Tes darah yang dapat memperlihatkan naiknya hormone paratiroid. Biopsi tulang untuk melihat tulang mengecil, keropos tetapi tampak normal.

CARA MENCEGAH
Osteoporosis memang suatu proses yang akan terus berjalan. Meski begitu, bukan berarti kita tidak bisa mencegah kemunculannya. Pencegahan ini tentu harus dilakukan sebelum usia 34 tahun, ketika tulang masih tumbuh. Kalau sudah lebih dari 34 tahun, ya akan percuma saja. Berikut ini yang bisa dilakukan untuk mencegah osteoporosis:
a. Latihan Fisik secara Teratur
Lakukan aktivitas fisik secara teratur dan sesuai kemampuan tubuh. Ini penting untuk mencegah atau mempertahankan agar kondisi tulang tetap baik.
b. Konsumsi Kalsium
Kalsium penting untuk membentuk tulang. Kebutuhan kalsium harian bagi orang dewasa sekitar 1.000 miligran per hari. Kebutuhan ini makin meningkat pada ibu hamil dan menyusui. Beberapa sumber kalsium terbaik adalah susu, yogurt, keju, daging, buah-buahan, sayuran dan biji-bijian. Kalsium sangat penting bagi tubuh. Bila kebutuhan tubuh tidak dipenuhi, tubuh akan mencuri dari tulang agar fungsi tubuh tetap berjalan. Itulah yang menyebabkan osteoporosis.
c. Konsumsi Obat Golongan Bisfosfonat
Memasuki usia 30-40 tahun, proses penghancuran tulang akan lebih besar daripada proses pembentukan tulang. Akibatnya tulang semakin tipis. Obat golongan bisfosfonat akan menahan dan mengurangi efek penghancuran tulang, sehingga proses pembentukannya akan jadi lebih banyak. Dengan begitu, kemungkinan tulang menipis akan berkurang. Meski begitu, Sport Medicine Specialist itu mengingatkan agar tidak sembarangan mengonsumsi obat golongan bisfosfonat sebab, mengonsumsi obat golongan bisfosfonat saja tidak akan menyelesaikan masalah. Justru nantinya tulang akan menjadi tebal dan tidak ada penghancurnya sehingga menimbulkan masalah baru. Yang paling penting adalah menjalani hidup sehat, dengan mengonsumsi makanan sehat, melakukan latihan fisik secara teratur, menghindari rokok, minuman beralkohol dan sebagainya.

ATASI SECARA MENYELURUH
Bila hasil pemeriksaan diketahui positif osteoporosis, yang bisa dilakukan adalah menjaga agar kondisi tersebut tidak cepat memburuk. Atau, paling tidak tetap bertahan pada kondisi saat dilakukan pemeriksaan. Artinya, bila osteoporosis ya akan tetap osteoporosis. Tapi, diusahakan agar tidak bertambah berat dengan menjalani terapi secara menyeluruh. Jika seseorang diketahui menderita osteoporosis, harus segera dilakukan terapi, setidaknya untuk mempertahankan kekuatan tulang yang masih ada. Terapi yang bisa dilakukan antara lain:

1. Hormonal
Terapi hormonal dilakukan untuk menjaga keseimbangan hormone yang ada dalam tubuh, terutama, hormone yang terkait dengan penyerapan nutrisi untuk tulang. Pemberiannya bisa melalui suntikan maupun oral.

2. Pemberian Suplemen
Pemberian suplemen juga dilakukan untuk memperbaiki konsumsi nutrisi khusus tulang yang dibutuhkan tubuh, seperti:
a. Kalsium
Suplemen kalsium bisa dikonsumsi secara oral. Kalsium ini merupakan komponen utama pembentuk tulang. Karena itulah harus dijaga kadar konsumsi atau asupannya ke dalam tubuh. Sebagai mineral terbanyak, berat kalsium yang terdapat pada kerangka tulang orang dewasa kurang lebih satu kilogram. Bagi orang Indonesia, konsumsi kalsium berdasarkan angka kecukupan gizi (AKG) tahun 2004, untuk usia 10-18 tahun adalah 1.000 miligram per hari. Sedangkan untuk usia lebih dari 19 tahun adalah 800 miligram per hari. Konsumsinya akan meningkat menjadi 950 miligram pe hari untuk wanita yang sedang hamil dan menyusui.
b. Vitamin D3
Berbeda dengan konsumsi suplemen kalsium, vitamin D3 bisanya diperoleh melalui sinar ultraviolet. Tidak harus berjemur asalkan terkena sinar matahari saja vitamin D3 tetap bisa terasup.

3. Jalani Diet Tepat
Diet atau pengaturan konsumsi makanan, terutama yang kaya akan kalsium, juga sangat perlu dilakukan. Agar tepat, pengaturan asupan makannya harus dikonsultasikan pada ahli gizi. Ada banyak pilihan bahan pangan yang kaya kalsium, misalnya susu dan produk olahannya, sayuran berwarna hijau, kerang, ikan, kedelai.

4. Latihan Fisik
Lakukan latihan fisik yang benar-benar efektif dan efesien, sehingga tidak perlu buang waktu untuk melakukan gerakan-gerakan yang tidak perlu.

search terms :

osteoporosis penyebab,beda tulang terkena osteoprosis dengan tidak,penelitian kebiasaan konsumsi kalsium dengan osteoporosis,penyebab kurangnya hormong estrogen adalah,penyebab osteoporosis pada wanita,penyebab tulang keropos dan cara mencegahnya,ras asia dan osteoporosis,rontgen osteoporosis,soft drink berbahaya osteoporosis,mengapa orang kurus mudah terkena patah tulang,latihan agar terhindar dari osteoporosis,bisfosfonat untuk osteoporosis,cache:iwLahErsylcJ:sweetspearls com/health/osteoporosis-tanpa-gejala-tapi-berbahaya/ menopause dengan tingkatannya,Gejala Pengeroposan Tulang,gejala tanda pencegahan osteoporosis,Gemuk atau kurus pengaruhi tulang tidak?,hormon penyebab osteoporosis,keluhan penderita osteoporosis,komponen pembentuk tulang,teknik yoga untuk osteoporosis Share This Post

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

CommentLuv Enabled

Search

Improve the web with Nofollow Reciprocity.