MENGGANTI ANTIBIOTIKA DENGAN HERBA MUNGKINKAH?

 MENGGANTI ANTIBIOTIKA DENGAN HERBA MUNGKINKAH?

MENGGANTI ANTIBIOTIKA DENGAN HERBA MUNGKINKAH?

MENGGANTI ANTIBIOTIKA DENGAN HERBA MUNGKINKAH?  . Pemakaian antibiotika zaman sekarang makin merajalela. Eksesnya, pemakaian yang salah kaprah bahkan tidak efektif pula. Mungkinkah menggantikan antibiotika dengan herba?

Antibiotika termasuk obat golongan antimicrobial. Berdasarkan cara kerja dan banyak atau sedikitnya jenis bakteri yang bisa dihambat, dikelompokan sebagai antibiotika berspektrum lebar dan sempit. Penggunaan antibiotika yang rasional seharusnya melalui pemeriksaan bakteri yang diduga sebagai penyebab penyakit lalu dilakukan tes sensitivitas untuk mengetahui jenis antibiotika yang cocok.

Tatacara minum antibiotika berbeda menurut jenis antibiotikanya. Ada yang dikonsumsi sebelum makan untuk meningkatkan penyerapan, ada yang sesudah makan karena untuk mengurangi ganguan asam lambung, ada lagi yang cukup diberikan secara dosis tunggal sehari sekali (aturan lainnya misalnya 3 kali sehari, 4 kali sehari dan sebagainya). Sebagai patokan umum antibiotika tidak boleh dikonsumsi bersama-sama zat antasida (anti asam lambung), zat astringent (teh), protein (putih telur, susu) dan logam berat (preparat besi). Pemberian lebih dari satu jenis antibiotika, harus hati-hati.

Antibiotika Dalam Herbal TCM

Para praktisi TCM (Traditional Chinese Medicine), juga para herbalis, menggunakan herba dalam bentuk tunggal atau ramuan (bentuk formula). Meski orang menyebutnya herba atau herbal, namun ada juga bahan-bahan non nabati misalnya mineral dan bagian hewan (Hicks J. principles of Chinese Herbal Medicine, Harper Collins Publisher Ltd. 1997).

Pengobatan herba Cina sedikit berbeda dengan pengobatan herba Barat. Dasarnya sama yaitu bahan tunggal, namun dalam TCM umunya dalam bentuk ramuan. Inilah keunggulan dan keunikannya, karena betapa sulit menggabungkan beberapa herba hingga didapat interaksi yang harmonis.

Dari sudut pandang farmasi, antibiotika adalah suatu sediaan mono atau single isolate yang sangat berbeda dengan sediaan herba dalam TCM yang umumnya bersifat kasar dan tidak murni. Dalam satu bahan natural, baik dalam bentuk akar, batang, buah maupun bunga yang saling berinterksi dalam harmoni untuk menghasilkan efek terapi.

Keadaan inilah yang selama ini sulit menyatukan cara pandang Barat dan Timur karena sampai kini kandungan aktif satu macam herba belum bisa dipahami secara mendasar apalagi dalam bentuk kombinasi yang umumnya dalam konsep TCM. Praktisi medis Barat hanya bisa mengobservasi data klinik, laboratorium dan melihat adanya perubahan tanpa memahami kenapa dan bagaimana campuran tersebut berproses dan menghasilkan efek penyembuhan. Mereka mengakui adalah efek positif namun belum bisa memahami aspek farmakokinetik (efek penyembuhan pasien) dan farmakodinamik (efek khasiat) zat herba. Ini dirasakan sebagai keterbatasan cara pandang Barat (Leung PC, Xue CC, Cheng YC. A Comprhensive Guide to Chenese Medicine, World Scientific Publishing Co, Singapore 2003).

Dalam TCM dikenal banyak herba yang memiliki sifat sebagai antibiotika (misalnya Scutellaria, Honeysuckle, Forsythia) yang juga bersifat sebagai analgesic (penurun panas), anti inflamasi (anti radang/pembengkakan), juga anti septic. Umumnya herba juga mempunyai sifat antibiotika termasuk dalam golongan febrifugal atau detoksikan (herba untuk mengeluarkan racun tubuh). Multi efek (sekaligus menurunkan panas, membunuh kuman, menyembuhkan radang). Herba itu disebabkan banyaknya kandungan zat aktif di dalamnya serta cara penggunaannya yang umumnya tidak murni. Misalnya herba yang mempunyai efek antimicro organism yang juga antipiretik, Pulsatilla sinensis, Brassica alba, Oldenladia diffusa, Ginko biloba dan masih beberapa lagi.

Memahami Prinsip TCM

Untuk memahami cara pandang pengobatan TCM, seorang dokter diminta menanggalkan sejenak cara berfikir medis Barat karena cara pandang TCM sangat berbeda dengan medis konvesional Barat. Dalam memahami TCM seorang praktisi lebih baik mengenal latar belakang dan budaya China terlebih dulu, selain tentu saja fisiologi dan patologi, cara dianogse penyakit, prinsip dan cara terapi.

Satu hal lagi, TCM menyertakan unsure spiritual atau feeling yang tidak ditemukan dalam cara pengobatan Barat. Misalnya. Ketika demam biasanya penderita akan merasa gerah, tetapi pada banyak keadaan penderita justru merasa kedinginan. Sebaliknya perasaan panas pada seseorang belum tentu diikuti peningkatan suhu tubuh, misalnya pada kasus hot flush (gejala rasa panas yang umumnya menyertai keadaan menopause pada wanita).

Dalam pemahamannya, Prinsip TCM adalah:

1. Menurut teori TCM, ketidakseimbangan unsure Yin dan Yang (energy panas dan dingin) merupakan akar segala penyakit. Jadi menyeimbangkan unsure Yin dan Yang tubuh merupakan titik awal langkah terapi dalam mengatasi setiap gangguan kesehatan.

2. Menentukan prioritas gejala yang lebih dulu harus diatasi. Menentukan mana yang lebih penting, kemudian yang kurang penting, diistilahkan sebagai fundamental dan incidental. Sebagai patokan umum, dikatakan dalam kasus emergensi/darurat, diatasi lebih dulu gejala akutnya. Setelah mereda, barulah aspek fundamental dibenahi.

3. Memahami perbedaan gejala yang disebabkan perbedaan factor luar, misalnya diet, cuaca, lokasi dan aktivitas. Semua itu dapat mempengaruhi gejala yang muncul.

4. Menentukan cara dan obat yang berlawanan dengan sifat dan gejala penyakitnya. Misalnya mengobati penyakit dengan gejala dingin menggunakan herba atau metode memanaskan. Dan sebaliknya.

5. Ada lagi prinsip terapi terbalik, yaitu mengisi untuk kondisi penuh, membuka untuk kondisi terbuka. Contoh; pasien dengan gejala diare disertai sakit lambung akibat makanan yang tidak dicerna dengan baik. Meski dalam kasus ini sudah ada gejala diare tetap digunakan herba laksatif – purgative (menguras usus) dengan tujuan mengelontor penyebab utama gangguan yaitu terhambatnya pencernaan makanan dalam system pencernaan.

Dengan memahami ulasan tersebut, maka jelas terlihat bahwa substitusi antibiotika oleh herba TCM sangatlah mungkin. Justru penerapan herba TCM mempunyai keunggulan, misalnya jika tersangka infeksi disertai penurunan daya tahan tubuh. Contoh yang jelas pada infeksi tifus abdominalis.

Sebagian pasien menunjukkan respon positif (terdeteksi pada kultur empedu) dengan konsumsi antibiotika, namun seringkali ditemukan pasien-pasien yang jsutru merasa makin tidak sehat bahkan kualitas tubuhnya turun setelah mengkonsumsi antibiotika. Sore hari suhu tubuhnya meningkat, lesu, nafsu makan menurun bahkan tidur pun terganggu, padahal jika dilakukan tes laboratorium, kuma tifusnya sudah negative/hilang. Dalam TCM kasus tersebut segera diatasi dengan pemberian herba febrifugal, laksatif-purgatif, dan herba yang menguatkan unsure yin (body fluid), misalnya herba Coptis atau huang Lien, juga Radix rhemania.

Contoh kasus lain yang sering ditemui dalam praktek dr. Anton Budiono, M.Sci, Universitas Indonesia, seorang praktisi herba adalah luka pada pasien diabetes (ulkus diabetikum). Konsumsi antibiotika apa pun tidak bisa mengatasi kasus ini. Namun dalam praktik, dengan member herba (misalnya Tien Chi atau radix notogingseng) serta nutrisi (misalnya jamur tertentu), ulkus bisa segera tertutup/mongering tanpa harus diamputasi.

Antibiotika Bisakah Diganti Herbal?

Berdasar pengalaman dr. Anton Budiono dalam menangani pasien di lapangan (lebih darin 8.000 pasien dengan sekitar 30.000 kali kunjungan), antibiotika tidak pernah digunakan. Walaupun menurut dr. Anton Budiono tidak anti terhadap keberadaan antibiotika namun latar belakang pendidikan medis Barat dan tambahan pemahaman terhadap prinsip TCM mengarahkan pandangan saya bahwa antibiotika dapat digunakan terutama pada kasus akut dan/atau pasien dengan daya tahan tubuh yang sangat lemah dengan tidak melupakan factor penting lainnya yaitu nutrisi termasuk cara mengkonsumsinya. (Sumber : Nirmala) MENGGANTI ANTIBIOTIKA DENGAN HERBA MUNGKINKAH?

 

Post Update :
Date : Monday, July 28, 2014 - Senin, 28 Juli 2014