angklung Manfaat Bermain Angklung untuk Terapi Pasca StrokeSekitar 50 persen pasien pasca stroke mengalami depresi sehingga menghambat proses pemulihan. Dengan bermain angklung, depresi bisa dikurangi dan proses pemulihan bisa berjalan lebih cepat.

Rasa sesal memang selalu datang belakangan. Itulah yang pernah dirasakan oleh Berry Tanukusuma (69, tahun), salah seorang pasien stroke yang tengah menjalani terapi di Sekolah Stroke, Klinik Neuropsikiatri dan Revitalisasi Karmel, Trio Sada, Kebun Jeruk, Jakarta Barat. ”Kalau bisa kembali ke masa lalu, niscara saya akan menjalani hidup lebih sehat, ” katanya.

Dulu, saat usianya masih relatif muda (46, tahun), ” Saya memang tidak peduli dengan gaya hidup sehat, ” tuturnya. Tanpa disadari, gaya hidup inilah yang menyebabkan kehidupannya berubah total. Tiba-tiba stroke menyerang dan membuatnya koma selama tiga hari. Dokter menemukan adanya penyumbatan pembuluh darah di otak sebelah kanan yang disebabkan oleh hiperkolesterol (450 mg/dl) yang dideritanya sejak beberapa bulan belakangan.

Berry pun mejalani perawatan intensif di rumah sakit selama enam bulan, masing-masing 3,5 bulan di Jakata dan 2,5 bulan di Singapura. ”Setiap hari saya hanya bisa menangis dan menyesal karena setelah sembuh pun saya tidak bisa apa-apa. Makan dan ke kamar mandi tidak bisa sendiri, ” katanya.

Sampai, akhirnya, ia menemukan tempat terapi yang unik. Hingga sikap murungnya pun berubah menjadi lebih menerima dan optimistik dalam memandang hidup, setelah menjalani rangkaian terapi bermain musik dan angklung di Sekolah Stroke, Klinik Neuropsikiatri dan Revitalisasi Karmel, Trio Sada, yang didirikan oleh Dr Hermawan Suryadi, SpS.

Mengapa terapi musik

Menurut Hermawan, terapi musik dalam dunia kedokteran ini sudah mulai diperkenalkan di Jepang sekitar tahun 1960-an. Saat itu, para dokter di Jepang mulai memperkenalkan karaoke sebagai terapi pendukung pada pasien gangguan jantung, stroke, sakit kepala, dan depresi. Dari serangkaian pemeriksaan setelah treatment dengan musik diberikan, ternyata terapi ini terbukti dapat mempercepat proses pemulihannya secara signifikan.

”Sejak itu terapi dengan memanfaatkan sarana musik terus dikembangkan dan kemudian diakui oleh European Neurological Association, yang kemudian mendorong diselenggarakannya lebih banyak penelitian ilmiah terhadap sistem terapi ini di berbagai negara,” katanya.

Yang terpenting adalah penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Finlandia awal 2008 lalu, yang berhasil membuktikan bahwa penderita stroke yang rajin mendengarkan musik setiap hari, ternyata mengalami peningkatan pada ingatan verbalnya dan memiliki mood yang lebih baik ketimbang penderita yang tidak menikmati musik.

Ada apa dengan angklung

Mengapa sesi terapi dengan bermain musik berefek positif bagi pasien penderita stroke? Menurut Hermawan, secara teoritis, bermain angklung dapat melatih pasien untuk melakukan gerakan menyilang garis tengah (cross midline), misalnya tangan kanan digerakkan ke arah kiri, yang merupakan inti dari senam kebugaran otak yang berkhasiat mengaktifkan jembatan otak (golden bridge). Jembatan ini menghubungkan otak bagian kiri dan kanan,yang akan membantu proses rehabilitasi pasien stroke.

Jika otak kiri adalah pusat bahasa, rasio, matematika, kemampuan baca dan tulis, otak kanan merupakan pusat intuisi dan kemampuan merasakan, memadukan dan ekspresi tubuh seperti menari, menyanyi dan melukis. ”Dalam konteks ini, bermain angklung berarti menggabungkan aktivitas otak kiri (lewat syair lagu) dan otak kanan (tangga nada) sehingga jembatan otak menjadi aktif, ” katanya.

Dengan bermain angklung – yang relatif mudah karena hanya terdiri dari satu tangga nada itu – banyak saraf di otak pasien yang bisa diaktifkan misalnya, saraf motorik tangan saat pasien menggerakkan angklung untuk membunyikan nada tertentu. Bersamaan dengan itu, saraf mata juga akan diaktifakan karena harus memperhatikan instruksi dari dirijen atau saat harus memperhatikan notasi dan teks lagu yang dinyanyikan. Ini sekaligus dapat memperbaiki gangguan verbal (ucapan) dan audio (pendengaran) yang biasa diderita pasien stroke.

“Dengan bermain angkung, saraf mata diintegrasikan dengan saraf bicara, dan saraf gerak. Begitu juga dengan saraf-saraf yang lain. Integrasi saraf inilah ( neuro sensory integration) yang memungkinkan terjadinya proses pemulihan atau rehabilitasi untuk penderita stroke,” jelas Hermawan.

Lebih tenang dan percaya diri

Selain itu, karena melibatkan orang banyak – satu tangga nada bisa dimainkan oleh beberapa orang – bermain angklung sangat baik sebagai sarana untuk bersosialisasi, mengenal lingkungan bagi sesama penderita stroke. ”Penelitian menunjukkan sekitar 50 persen pasien pasca stroke mengalami depresi, cenderung menutup diri, dan enggan bersosialisasi sehingga menghambat proses pemulihannya, ” katanya.

Dengan bermain angklung, sesama insan penderita stroke (IPS) akan didorong untuk saling berinteraksi, dan bertukar cerita satu sama lain sehingga mereka menjadi lebih tenang dan percaya diri. “Bahkan, apa yang ceritakan oleh sesama penderita stroke, biasanya, akan memberikan motivasi yang lebih besar dibandingkan nasehat dokter atau keluarga,” kata Hermawan. Lagi pula, dengan kemampuan bermain angklung, mereka bisa lebih mudah bersosialisasi dengan lingkungan keluarga dan masyarakat. (Sumber Nirmala)

Post Update :
Date : Thursday, October 2, 2014 - Kamis, 2 Oktober 2014