kehamilan di luar rahim Gejala dan Tindak Medis Pada Kehamilan di Luar Rahim (Kehamilan Ektopik)Kehamilan di luar rahim (kehamilan ektopik) terjadi bila sel telur yang telah dibuahi tidak melekat di rahim tetapi di tempat yang berbeda yaitu di saluran telur (tuba falopi), indung telur, leher rahim atau rongga perut. Bila embrio melekat di saluran telur, maka pertumbuhan embrio akan menyebabkan saluran telur membengkak atau pecah.

Satu dari seratus kehamilan adalah ektopik. Peluang kehamilan ektopik lebih tinggi jika saluran telur rusak karena radang perut (misalnya usus buntu atau infeksi Chlamydia) atau karena operasi rongga perut. IUD (spiral) juga meningkatkan risiko kehamilan ektopik.

Pada kehamilan ektopik, ovum yang telah dibuahi menempel pada tempat diluar uterus. Penempelannya dapat terjadi di Tuba Falopii (tempat tersering),ovarium, cervix bahkan pada abdomen.

Gejalanya mirip dengan gejala keguguran. Biasanya segera setelah terlambat haid yang pertama, sang wanita merasa nyeri kram dan tampak adanya spotting (perdarahan). Kadang kala perdarahan dapat membahayakan kesehatan maupun nyawa wanita hamil tersebut

Saat terjadi perdarahan berulang-ulang yang menyebabkan nyeri dan tekanan tapi bila perdarahannya cepat dapat menimbulkan shock atau hipotensi.

Jika terjadi nyeri pada perut bawah pada kehamilan sekitar 6-8 minggu dan ini disertai adanya pingsan, biasanya berarti terjadi rupture (robekan) tuba yang disertai perdarahan intra abdominal.

Dari pemeriksaan didapatkan adanya tanda-tanda perdarahan dan shock juga adanya iritasi peritonium di perut bawah.

Terjadi pembesaran uterus (rahim) tapi lebih kecil daripada yang seharusnya pada usia kehamilan dan adanya nyeri gerak pada servix, Nyeri kencing dan buang air besar juga terjadi, penyebab kehamilan ektopik belum diketahui secara jelas, tetapi faktor resikonya adalah : merokok, kerusakan tuba karena kehamilan dan pertambahan usia ibu. Tindakan dengan laparoskopi dan laparatomi kadang kala dibutuhkan dalam kasus ini.

Gejala Kehamilan Ektopik

Jika Anda mengalami kehamilan ektopik, gejala biasanya akan terasa pada sekitar 6 – 10 minggu usia kehamilan. Jika Anda mendapatkan gejala berikut, Anda harus segera berkonsultasi dengan dokter Anda:

  1. Sakit di salah satu sisi panggul
  2. Perdarahan vagina di luar menstruasi
  3. Nyeri di perut bagian bawah
  4. Pingsan
  5. Mual

Pada tahap lanjut, kehamilan ektopik dapat menimbulkan gejala berikut:

  1. Nyeri perut yang intens
  2. Hipotensi
  3. Denyut nadi cepat
  4. Kulit pucat
  5. Diagnosis

Karena beberapa gejala di atas juga dapat terjadi pada kehamilan normal, dokter bisa sulit untuk mendiagnosis. Oleh karena itu, ada sejumlah tes yang dapat dilakukan jika dicurigai ada kehamilan ektopik.

Menggunakan ultrasound, dokter mungkin dapat melihat kehamilan ektopik, karena adanya darah di tuba falopi yang rusak atau ada embrio di luar uterus.

Laparoskopi melalui sayatan kecil di perut dapat dengan mudah melihat bila ada embrio di luar rahim.

Mengukur kadar hormon kehamilan hCG (human chorionic gonadotopin) adalah cara lain untuk mendeteksi kehamilan ektopik. Dalam kehamilan normal, kadar hCG berlipat dua kira-kira setiap dua hari hingga minggu ke-12. Jika hCG diperkirakan tidak meningkat, mungkin ada sesuatu yang salah dalam kehamilan.

Dokter akan selalu mencoba mendiagnosis kehamilan ektopik sedini mungkin. Dengan demikian, kerusakan biasanya masih terbatas dan risiko perdarahan internal dan komplikasi terkait masih rendah.

Pengobatan

Kehamilan ektopik harus selalu dibatalkan dan dokter akan mencoba untuk menahan laju pertumbuhan embrio dengan obat-obatan. Lebih cepat kehamilan ektopik terdeteksi, semakin besar kemungkinan kehamilan dapat dibatalkan tanpa menimbulkan efek jangka panjang.

Bila kehamilan ektopik terdeteksi di tahap awal, seringkali embrio dapat ditangani dengan obat suntik dan diserap oleh tubuh Anda. Dalam terapi ini tuba falopi biasanya masih utuh. Dalam situasi yang lebih serius, misalnya ketika tuba falopi sudah mengembang, maka diperlukan operasi.

Prognosis

Wanita yang pernah mengalami kehamilan ektopik, ada kemungkinan sekitar 12% akan terkena lagi di masa mendatang. Karena itu, bila Anda pernah mengalaminya Anda harus memberitahu dokter atau bidan Anda.

Sekitar 60% wanita menjadi subur kembali setelah kehamilan ektopik, 30% tidak ingin hamil karena pengalaman itu dan 10% menjadi infertil (tidak subur). (Sumber: Majalah Kesehatan & id.shvoong.com)

Post Update :
Date : Friday, August 1, 2014 - Jumat, 1 Agustus 2014