Jan
07
2010
Kalau memang cinta, apa mau dikata. Biarpun tetangga memprotes baunya, urusan makan jengkol tetap jalan terus. Tapi kalau sudah mengidap “kutukan” jengkol, jangan lagi mencurigai tetangga. Derita itu semata salah anda sendiri karena kelewat nafsu melahap lalap jengkol, semur jengkol, gulai jengkol, lodeh jengkol, emping jengkol, keripik jengkol atau rending jengkol. Gangguan ini lazim disebut kejengkolan.
Biasanya muncul rasa pegal hebat di pinggang, berlanjut menjadi nyeri melilit. Sulit buang air kecil. Ketika kencing, rasanya sakit bukan main, kadang bercampur darah. Bisa juga tidak bisa kencing sama sekali. Penderita bisa mengalami kejang-kejang, karena menahan sakit luar biasa. Namun setelah beberapa jam, gejala akan hilang dengan sendirinya.
Apa yang terjadi? Di dalam jengkol (Pithecolobium jiringa) terdapat senyawa asam jengkolat. Jika pH darah kita netral, asam jengkolat akan aman-aman saja. Tapi kalau cenderung asam (pH kurang
[ Read More ]
Jan
03
2010
Hidangan lezat pada setiap perayaan hari besar yang kerap kali jarang kita temui di hari-hari biasa, memang sayang kalau dilewatkan. Namun ingatlah untuk menakar makanan anda, terutama yang terbuat dari bahan-bahan berikut:
SUSU BERLEMAK (WHOLEMILK) ATAU KEJU
Susu dan keju banyak mengandung lemak jenuh, kolesterol dan juga natrium. Keduanya kurang baik bagi pengindap kadar kolesterol berlebihan (hiperkolesterolemia) maupun trigliserida berlebihan (hipertrigliserida), serta hipertensi. Penderita diabetes sebaiknya juga mewaspadainya.
Kombinasi lemak jenuh, kolesterol dan natrium dalam jumlah berlimpah berpotensi membenngkakkan resiko stroke dan serangan jantung. Mengganti susu berlemak (wholemilk) dengan susu rendah lemak (skim) memang bisa memangkas kandungan lemak jenuhnya, tapi kandungan natriumnya tetap saja berlimpah. Lain ceritanya jika anda bisa menggantikan susu berlemak dan keju dengan yogurt yang
[ Read More ]
Jan
02
2010
Data menyebutkan 43% wanita pada usia di 19-59 tahun mengalami disfungsi seksual dalam berbagai tingkatan. Itu data di Amerika Serikat. Di negeri kita tentu lebih banyak lagi karena wanita di sini lebih tertutup dalam menyelesaikan persoalan gangguan seksual. Belum lagi wanita pedesaan yang menganggap seks sebagai hal yang tabu untuk dibahas. Hal ini seperti yang disampaikan ahli psikoterapi dr. Jusni Ichsan Solichin dalam seminar ‘Disfungsi Seksual Wanita & Solusinya” tahun 2005.
Angka yang dikutip pembicara lain dalam seminar sehari ini, dr. H. bambang Sukamto dari penelitian yang dilakukan di RSCM pada 2004, kian membuat miris, yaitu sebanyak 55% wanita mengalami ketidaknyaman seksual (560 orang responden berusia 35-40 tahun). Delapan puluh lima persen (85%) hanya pasrah menerimanya dan 15% berusaha mencari jalan penyembuhannya.
Gangguan seksual pada wanita itu meliputi gangguan libido (rendahnya gairah seksual) yang merupakan
[ Read More ]